#BijakBerplastik : Menjadi “Malaikat” Sampah Bagi Bumi Kita

Menuju nol sampah bukan menjadikan kita sebagai malaikat tapi menjadikan kita sebagai manusia yang lebih peduli dan bertanggung jawab DK Wardhani (Dini)


Sesungguhnya banyak yang sudah paham bahwa sampah adalah masalah, tetapi tidak tahu harus mulai darimana untuk memulai meminimalisir adanya sampah, atau bahkan sudah tahu tapi belum tergerak, cuek tak peduli. Hmmm kira-kira kita ada di pihak yang manakah? :)

Did You Know?
  • Bahwa faktanya, 100% penduduk dunia adalah penghasil sampah?  
  • Bahwa ternyata kurang dari 1% penduduk dunia yang peduli mengurus mengenai masalah sampah.
  • Bahwa presentasi sampah kota di Indonesia adalah 60% merupakan sampah organik, 14% adalah sampah plastik, 9% sampah kertas, 4,3% metal dan 12,7% sampah lainnya (kaca, kayu dan bahan lainnya).
Well, sampah plastik menempati porsi kedua terbesar, dan 1,3 juta ton sampah plastik setiap tahunnya tidak dikelola dengan baik, padahal sifat sampah plastik tidak mudah terurai secara alami bahkan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Ohh my God :(

Kondisi ini tentunya tidak hanya berpotensi merusak ekosistem lingkungan, namun juga berdampak bagi kesehatan manusia. Jadi mau dibawa kemanakah bumi kita ini? Apakah kita akan memenuhi bumi ini dengan sampah dan mewariskannya kepada anak cucu kita?


 Bincang #BijakBerplastik Bersama Danone-AQUA 

Plastik memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari, karena sifatnya yang dapat mudah dibentuk sesuai keinginan, tahan air, awet, praktis dan dapat melindungi isi dengan baik.

Namun, siapa sangka dibalik manfaatnya tersebut, plastik dapat mengakibatkan ancaman polusi apabila tidak dikelola dan dibiarkan terbuang ke lingkungan.

Lalu dimanakah peran kita? Kita dapat memulainya dari saat kita membuang sampah. Kalimat “Buanglah sampah pada tempatnya” sudah dari lama kita dengar, namun ternyata kalimat itu tidak cukup. Kita harus merubah pola pembuangan sampah kita, dimana awalnya kita membuang semua sampah menjadi satu di tempat sampah, kita rubah menjadi memilah sampah. Pilahlah sampah menjadi minimal 4 golongan sampah. Yaitu sampah mudah membusuk, sampah tidak mudah membusuk seperti kaca, plastik dan kaleng, sampah berbahaya dan sampah polystyrene seperti lampu neon, baterai, bekas semprotan anti serangga dan sterofoam serta yang terakhir adalah sampah residu seperti pampers atau pembalut dan puing bangunan.

Kita juga dapat berperan dengan mengurangi sampah, terutama sampah plastik, dimana saat kita pergi keluar rumah atau berbelanja, kita dapat membawa kantong belanja sendiri. Nih saya kasih tau contoh list perlengkapan yang saya bawa saat keluar rumah yaitu : handuk kecil, sapu tangan, tempat makan, botol minum, kantong belanja, sedotan stainless & peralatan makanan. Handuk kecil dan sapu tangan mengurangi penggunaan tissue, tempat makan mengurangi penggunaan plastik dan kertas pembungkus makanan, sedangkan botol minum, kantong belanja, sedotan stainless dan peralatan makan mengurangi penggunaan plastik tempat minum, plastik kresek, plastik sedotan dan plastik sendok dan garpu.

Tempat sampah di Bandara Adi Soemarmo, Solo

Oleh karenanya hidup minim sampah bukan menjadi sebuah obsesi, tapi lebih kepada kendali diri. Nol sampah adalah proses, bukan semata tujuan akhir. Untuk itu kita perlu secara perlahan, bertahap, dan bertujuan mencapainya. Percaya deh jika kita PEKA dan PEDULI, efeknya pun terasa, bukan saja buat diri sendiri tapi buat lingkungan dan kebaikan bumi tercinta ini.  Karena sampahmu adalah tanggung jawabmu, yuk saling mengingatkan dan jadilah “malaikat” sampah demi kebaikan bumi kita tercinta ini.

Karena ketertarikan saya mengenai isu lingkungan terutama masalah sampah ini, saya menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Danone-AQUA yang bertajuk Bincang #BijakBerplastik pada Kamis, 18 Oktober 2018 yang berlokasi di sebuah cafe bernuansa unik yaitu Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan.

Acara yang bertajuk #BijakBerplastik ini bertujuan untuk membahas lebih jauh tentang fakta dan kegunaan plastik, serta bagaimana cara mengolah sampah plastik dan peran serta beragam sektor seperti masyarakat dan industri untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik dan berpartisipasi dalam menangani permasalahan sampah plastik.

Danone-AQUA begitu concern terhadap isu lingkungan, karena hal ini senada dengan visi perusahaan Danone-AQUA yaitu "One Planet One Health" yang disampaikan oleh Bapak . Danone percaya bahwa dalam membentuk tubuh yang sehat, maka dibutuhkan asupan sehat yang berasal dari lingkungan yang sehat.

                           


Mengenal Plastik

Plastik adalah senyawa polimer, di mana kata polimer terbagi ke dalam dua kata, yakni poly yang berarti banyak dan meros yang berarti bagian. Plastik bisa terbuat dari bahan polimer sintetik maupun semi sintetik, yang secara umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, klorin atau belerang.

Kelebihan atau Manfaat Plastik?
Berikut ini adalah manfat plastik bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari : 
1. Food Packaging
2. Children Toys
3. Kitchen Equipment
4. Building material
5. Electricity
6. Electronics Component

Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam lingkup sederhana?
Tips menurut Ibu Emenda Sembiring selaku Industrial Engineering, Environmental Engineering and Quantitative Social Research adalah dengan PEKA dan PEDULI!
Peka terhadap lingkungan sekitar. Cari tahu bagaimana caranya agar plastik kita ada yang mengelola. Misanya, jika tahu ada pemulung, lapak, bank sampah yang mengelola sampah plastik, ikut berpartisipasi dengan cara lakukan pemilahan, berikan/setorkan/antar.



                        
“Upaya Danone-AQUA membangun kolaborasi dalam mengatasi sampah plastik dengan gerakan #BijakBerplastik 

Menjaga lingkungan dengan memusuhi plastik, itu jelas tidak mungkin. Untuk itu diperlukan kolaborasi dari seluruh pihak dalam upaya mengurangi sampah plastik agar permasalahan plastik yang terbuang ke lingkungan  bisa diatasi. Tahu dunk kalau plastik bisa didaur ulang untuk menjadi sumber daya baru, sehingga bisa dicegah agar tidak mencemari lingkungan sekaligus bisa menumbuhkan ekonomi sirkular. 

"Sebagai perusahaan yang memiliki misi untuk membawa kesehatan bagi sebanyak mungkin orang, Danone-AQUA sudah sejak awal berupaya berkontribusi menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia. Dimulai sejak 1993, Bapak Tirto Utomo, pendiri AQUA telah membuat program AQUA peduli dimana perusahaan membeli kembali botol bekas dari konsumen untuk didaur ulang,"ungkap Bapak Karyanto Wibowo selaku Sustainable Director Danone-Indonesia. 


                           

Apa saja yang sudah Danone-AQUA lakukan dengan gerakan #BijakBerplastik?
Pionir pengelolaan sampah botol plastik dengan program AQUA PEDULI - 1993
Memiliki Bank Sampah Induk 
Menciptakan siklus hidupPio baru untuk plastik kemasan bekas
Pioneering for state of the art close loop technology
Inovasi Teknologi untuk Smart Drop Box

Berikut ini adalah Tips #BijakBerplastik yang dapat kita lakukan : 
  • Menggunakan reusable bag alias tas multifungsi untuk berbelanja. 
  • Membawa tumbler kemanapun pergi, hal inibselain menghemat pengeluaran juga mengurangi sampah plastik.
  • Memakai sedotan bambo atau stainless steel yang ramah lingkungan dan bisa digunakan berkali-kali. Bagi yang suka nongkrong-nongkrong cantik, item ini  wajib di bawa!
  • Membawa kotak makanan sendiri saat membeli makanan.


Belajar dari Kisah Switenia Puspa Lestari 
Founder @DriverCleanAction

"Upaya Komunitas Anak Muda berkontribusi Menanggulangi Permasalahan Sampah Plastik di Indonesia” 

Gadis berusia 23 tahun ini mulai tergerak untuk melakukan sebuah aksi cinta lingkungan dimulai dengan mengambil sampah saat menyelam. Hobinya menyelam, melihat pantai yang buat menyelam berceceran sampah dimana-mana , terbesitlah dalam hatinya untuk mendirikan Driver Clean Action.

"Untuk menginspirasi sekitar dalam mencintai lingkungan, bisa dimulai dengan melakukan aksi nyata yang dilakukan oleh kita sendiri", ujar perempuan manis nan energik ini. 

Jadi jika Jepang membutuhkan waktu sekitar 100 tahun (dari tahun 1900) agar masyarakatnya peduli dengan sampah dan Singapura membutuhkan waktu selama 40 tahun, lalu berapa lamakah waktu yang dibutuhkan oleh Indonesia agar masyarakatnya peduli dengan sampah?

Yuk berkontribusi secara nyata dengan mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai sekarang juga. Semoga makin banyak inovasi dan solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia. 

Jadilah orang yang PEKA dan PEDULI! Semangat #BijakBerplastik ^





#DietKantongPlastik sudah lama saya lakukan, pelan-pelan sih mulai mengurangi sampah plastik. Saya selalu membawa reusable bag, botol minum juga tempat makanan untuk jaga-jaga saat beli cemilan or belanja di supermarket hehehe. Sampai penjual buah langganan saya tahu kebiasaan saya untuk menolak plastik, pelan-pelan juga saya mengedukasi dengan bahasa yang mudah dimengerti tentunya jika ada yang bertanya ☺️ Karena hal kecil yang saya lakukan ini, insha Allah akan berdampak baik bagi kondisi lingkungan/bumi kita di masa depan. Alhamdulillah suami tercinta pun mendukung apa yang saya lakukan dengan ikut #BijakBerplastik saat belanja mingguan ke tradisional market. Karena sampah plastik ini bisa merusak lingkungan dan tidak bisa diurai jika sudah masuk ke dalam tanah apalagi jika ada yang buang sampah plastik sembarangan di kali/sungai ☹️ . . . @aqualestari #BijakBerplastik #JelajahAlamAqua
A post shared by Melinda イチゴ Niswantari (@nonamelinda) on

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.