Ayo Bela Negara...Indonesiaku Tercinta

Sejak kecil aku dididik dalam lingkungan yang sangat mencintai Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketika ada upacara bendera 17 Agustus, keluargaku pasti sangat bersemangat saat menonton upacara tersebut di televisi. Apalagi ketika Indonesia bertanding dalam suatu cabang olahraga internasional dan disiarkan di tv (biasanya bulu tangkis dan sepakbola), keluargaku pasti siap mendukung dengan menonton, mendoakan dan bersorak-sorai. 

Yang aku ingat, saat para atlet Indonesia menjadi juara dan pada saat pengibaran bendera Merah Putih serta dikumandangkannya Indonesia Raya, kami ikut terharu, terlarut dalam suasana dan menangis karena bangga dengan putra putri terbaik yang sudah membanggakan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Rasa cinta kepada Bangsa Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ada di keluargaku, mungkin disebabkan karena pernah merasakan masa perjuangan sebelum kemerdekaan. Dimana karena merasakan masa-masa sulit saat penjajahan, menjadikan keluargaku sangat mencintai negeri ini. 


Di zaman millenial saat ini, dimana informasi dapat dengan cepat disebarluaskan, dapat dengan cepat didapatkan dan dapat dengan mudah diakses, hal ini menyebabkan mudahnya penyebaran informasi palsu/hoax dan informasi-informasi yang dapat memecah belah keutuhan bangsa seperti penyebaran ideologi/paham baru untuk menggantikan Dasar Negara Pancasila. 

Oleh karena adanya potensi ancaman tersebut, Kementrian Pertahanan Republik Indonesia melalui Direktorat Jendral Potensi Pertahanan mengkampanyekan tagline Ayo Bela Indonesiaku. Kampanye ini bertujuan untuk menggerakkan generasi millenial terutama Generasi Y dan Generasi Z untuk tetap menjaga Semangat  Bela Negaranya tetap bergelora dan menyala.

Salah satu kampanye Ayo Bela Indonesiaku sekaligus sosialisasi nilai-nilai Bela Negara diadakan pada tanggal 06 Maret 2019 di Wayang Bistro, Jakarta Selatan yang dihadiri oleh para panelis yaitu Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si selaku Dirjen Pothan Kemhan Republik Indonesia;  Brigjen TNI Tandyo Budi Revita, S.Sos. selaku Direktur Bela Negara Dirjen Pothan Kemhan Republik Indonesia; Karina Nadila selaku Putri Pariwisata Indonesia 2017 serta Dimas Beck selaku artis dan pemerhati HIV/AIDS. 

                     

"Bela Negara Bukan Wajib Militer, tetapi berbuat yang terbaik bagi Bangsa dan Negara sesuai dengan Profesi Warga Negara"

Kampanye Ayo Bela Indonesiaku ini merupakan salah satu perwujudan dari Bela Negara yang sudah tertuang dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Sedangkan pengertian dari Bela Negara sendiri adalah sikap dan perilaku yang dilandasi semangat patriotisme seseorang, kelompok atau seluruh komponen berdasarkan Pancasila dan UUD 45, dalam kepentingan mempertahankan eksistensi serta menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara seutuhnya.

Ancaman terhadap kutuhan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini lebih kepada sesuatu non fisik yaitu dengan memanfaatkan potensi konflik seperti penyebaran informasi hoax dan penggunaan isu SARA yang bertujuan memecah belah persatuan, penyebaran narkoba, miras serta pornografi dan perilaku KKN yang menyebabkan timbulnya kesenjangan dan konflik sosial. 

Ancaman seperti ini dikenal juga dengan istilah proxy war. Tujuan dari ancaman non fisik ini sama seperti ancaman fisik yaitu bertujuan untuk menguasai suatu Negara beserta kekayaan yang ada didalamnya oleh suatu kelompok tertentu. Jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan untuk ancaman non fisik ini, biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan ancaman fisik. Oleh karenanya perlu adanya pembentengan dari ancaman non fisik ini yaitu dengan Bela Negara. Menurut Bapak Tandyo Budi Revita bahwa Bela Negara dapat dilakukan dengan cara berperan aktif dalam pendidikan, moral, sosial dan peningkatan kesejahteraan

Nilai-nilai Bela Negara ada 5 yaitu :
  1. Cinta tanah Air
  2. Sadar Berbangsa dan Bernegara
  3. Yakin pada Pancasila sebagai Ideologi Negara
  4. Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara
  5. Memiliki kemampuan Awal Bela Negara

Bela Negara saat ini memang berbeda dengan Bela Negara pada saat penjajahan atau sebelum kemerdekaan. Bela Negara saat itu diwujudkan dengan berperang mengangkat senjata melawan penjajah. 

Penyelenggaraan Bela Negara saat ini, sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2002 terdapat 4 aspek diantaranya melalui  : 
  1. Pendidikan Kewarganegaraan
  2. Latihan Dasar Kemiliteran
  3. Pengabdian Sebagai Prajurit TNI
  4. Pengabdian Sesuai Profesi

Nah pengabdian sesuai profesi ini, jika kita adalah blogger, dapat dilakukan dengan menyebarkan informasi-informasi fakta dan informasi yang dapat meningkatkan rasa cinta kepada bangsa dan negara. 
Lain lagi dengan Karina Nadila yang pernah menjadi Putri Pariwisata Indonesia 2017, selain mengenalkan pariwisata Indonesia ke luar negeri, Karina juga melakukan Bela Negara dengan bergabung dalam komunitas 1000 guru. Dalam komunitas tersebut, Karina mengunjungi daerah-daerah yang masih termasuk ke dalam daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) seperti pada saat mengunjungi Timor Tengah Selatan. Dalam kegiatannya, Karina mengajak para penerus bangsa untuk dapat terus belajar mencari ilmu hingga ke jenjang tertinggi agar nanti pada saatnya mereka dapat kembali ke kampung halamannya dan membangun kampungnya menjadi lebih baik lagi.



Sedangkan Dimas Beck sebagai seorang artis/public figure dan sebagai pemerhati HIV/AIDS melakukan Bela Negara dengan cara menggalang dana untuk Rumah Lentera di Solo. Sebuah rumah belajar yang menampung anak-anak yang mengidap HIV/AIDS yang ditolak oleh sekolah umum. Dalam penggalangan dana tersebut, Dimas Beck berhasil mengumpulkan dana sebesar 20 juta rupiah selama 18 jam dan meningkat menjadi 100 juta rupiah selama satu minggu. 




Untuk informasi lebih detail bisa lihat di media sosialnya : 

www.belaindonesiaku.id
IG : ayobelaindonesiaku
Facebook : BelaIndonesiaku2018
Twitter : AyoBelaNegara


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.